Anda dapat menyampaikan SARAN, KRITIK & ADUAN MENGENAI PELAYANAN PUBLIK di Kabupaten Kolaka, Kirim dalam bentuk Pesan Singkat, ke nomor Layanan Publik MERCYFMKOLAKA 0853 9880 1005 - 0852 2333 1015 - 085 341 211 119

Monday, February 16, 2015

Melihat Pomalaa Dari Jalur By Pass

Saat matahari tidak begitu terik lagi, saya melintasi jalan by pass menuju Pomalaa, salah satu kecamatan di Kabupaten Kolaka yang berjarak 10 kilometer kalau lewat jalan yang sudah beraspal dan menyisir di pantai Kolaka. Jalan poros by pass Kolaka-Pomalaa menjadi alternatif untuk memendekkan jarak tempuh dari Kolaka-Pomalaa dan sebaliknya kalau Anda ingin melanjutkan perjalanan sampai ke batas kota Kolaka di Kecamatan Toari yang berbatasan dengan Kabupaten Bombana. Jalan by pass ini kini sudah beraspal mulus dengan jembatan yang tak lagi darurat dari batang pohon kelapa yang diikat dengan kawat slang. Masyarakat Kolaka atau dari luar kota Kolaka yang mau ke Pomalaa atau menuju ke daerah Kolaka bagian selatan kini lebih memilih lewat jalur ini sambil menikmati panorama pantai dengan rimbunan pohon bakau yang masih tersisa.


Di sepanjang jalan poros by pass Pomalaa kini ramai dengan lalu lalang kendaraan bermotor juga roda empat melaju dengan kecapatan rata-rata 80 Km/jam. Ada yang menarik perhatianku dari perjalanan di jelang sore itu, saat melintas di pertengahan jalan itu nampak tenda-tenda darurat yang berdiri sepanjang jalan itu, dengan jajanan jagung bakar hingga sarabba terlihat dijajakan oleh warga  Desa Tobo-Tobo yang tinggal tidak jauh dari jalan tersebut. Tenda-tenda darurat ini berjajar meski tidak teratur di kiri-kanan jalan di Pomalaa.Namun telah merubah suasana jalan yang dulunya sepi dari pengendara apalagi di malam hari. Sebagian warga Kolaka-Pomalaa takut melintasi jalan ini karena mereka kerap kali mereka dihadang oleh kawanan pemuda yang biasa mabuk di sekitar jalan yang kini telah jadi tempat berjualan warga yang ingin mengais rejeki di sepanjang jalan pantai itu. Bahkan di jalur itu pernah jadi tempat buang sampah dan menimbulkan bau tak sedap setiap kali melintasi jalan yang kini ramai oleh warga yang menjual jajanan ringan dan ramai dikunjungi oleh warga di sekitar Pomalaa.


Menjamurnya warga yang menjual jajanan di sepanjang jalan itu, baru terlihat setelah jembatan yang terputus di sekitar Pomalaa telah diperbaiki melalui dana CSR PT.Antam Pomalaa, salah satu BUMN yang core bisnisnya di sektor pertambangan nikel dan Pemerintah Kabupaten Kolaka meresmikan jembatan ini dihadiri salah satu anggota DPR-RI. Begitu ceritanya. Melihat pemandangan ini saya mencoba menebak apakah karena jalan ini sudah mulus kemudian kendaraan melintas di jalur ini sudah mulai ramai, sehinggga ini peluang bisnis bagi warga yang ingin mendapatkan tambahan penghasilan selain menjadi petani tambak udang atau ikan bandeng ?


Saya lalu berpikir sekenanya saja dan menyimpulkan sendiri, sejak kegiatan tambang yang dilakukan oleh pemegang IUP (Izin Usaha Penambangan) dan Kuasa Penambangan (KP) terhenti maka terlihat putaran uang di Kolaka merosot tajam sampai pada jurang kemiskinan.Dari beberapa cerita yang sempat saya catat dan dengar pasca tutupnya kegiatan tambang yang dilakukan oleh pemilik KP/IUP di Pomalaa menjadi penyebab lesuhnya pertumbuhan ekonomi masyarakat, bahkan angka kriminalitas meninggi itu catatan yang saya dapat dari Polres Kolaka. Saat  kegiatan tambang masih berjalan di Pomalaa, nyaris semua warkop dan warnet di Pomalaa dan Kolaka dipenuhi oleh para broker dan buyer bermata sipit yang ingin membeli kandungan nikel yang dikenal di Kolaka dengan sebutan Ore dengan kadar tinggi. Maka tak heran jika di perairan laut Kolaka pada saat itu berjejer rapi kapal bendera asing dengan bobot ribuan ton mengantri untuk muatan tanah merah.

Saya pernah menghitung jumlahnya 29-30 kapal pengangkut tanah merah setiap bulannya di Tahun 2013-2014. Bisa dibayangkan besaran pendapatan masuk ke Pemerintah Kabupaten Kolaka jika harga jualnya dibayar bukan dengan mata uang rupiah tapi dollar. Sebagai bahan perbandingan saja, sebuah kapal MV.Sinar Kudus pengangkut nikel kadar tinggi yang dibajak pada bulan maret 2011 oleh perompak Somalia di perairan laut Arab itu mencapai angka 1,4 Trilyun. Bayangkan saja ini, hanya 1 kapal saja. Bagaimana kalau puluhan kapal yang setiap bulan dijual ? Saat ini, yang terlihat hanya satu kapal yang masih melakukan aktivtas bongkar muat di perairan laut Kolaka, nampak dari kejauhan lambung kapal sudah setengah yang tenggelam, itu artinya kapal tinggal beberapa hari tutup palka dan siap membawa tanah merah yang mengandung kadar ore tinggi ke negara tujuan Jepang atau Cina.


Menyebut Pomalaa dengan tanah merah sudah seringkali dalam tulisan-tulisanku, saya lebih suka menyebut Pomalaa dengan tanah merah, karena memang tanah di Pomalaa berwarna merah dan sulit dihilangkan dengan sebungkus pemutih rinso. Tanah merah ini menjadi tumpuan harapan bukan hanya masyarakat di Pomalaa, tetapi juga menjadi lahan bagi negara untuk mengisi rekening para pejabat di negara ini. Makanya tak heran jika sebuah pabrik nikel PT Antam di Pomalaa menjadi objek vital dan dijaga oleh dua kekuatan TNI/Polri. Tak sembarang orang bisa masuk di are pabrik dan kantor PT.Antam, kecuali tamu yang sudah mendapat izin dari pihak keamanan perusahaan.

Satu hal yang hingga kini terus mengusik pikiranku, ketika sumber daya alam bernama nikel ini habis dikeruk atau pabrik ini terhenti beroperasi karena cadangan ore nya habis. Maka Pomalaa akan menjadi kota mati, dan bukit-bukit bekas eksploitasi tambangnya sudah gundul sebagai akibatnya.Dan bencana alam berupa banjir akan menjadi ancaman warga di sekitar wilayah penambangan di Pomalaa.Saya percaya pihak PT Antam dengan jaminan reklamasi lingkungan dengan anggarannya cukup besar. Namun rasa prihatin atas kegiatan perusahaan tambang yang pernah menambang di blok Pomalaa dan melarikan diri dari kewajiban pajak yang jumlahnya milyaran, setelah mengambil ribuan ton tanpa melakukan reklamasi lingkungan masih terlihat disana.  Sebagai warga Kolaka yang dilahirkan dan dibesarkan di Pomalaa 40 Tahun lalu, melihat kenyataan ini, seperti kehabisan akal untuk membuka sisi gelap penambang yang hanya bermodal alat berat dan selembar surat IUP/KP dan rekomendasi penguasa saat itu. Kini terasa sekali dampaknya, mereka telah pergi meninggalkan sisa lahan tambang yang tidak lagi hijau, mereka menyisahkan masalah lingkungan yang nilai kerugiannya tidak sedikit yang harus ditanggung oleh Pemerintah Kabupaten Kolaka dan tentunya juga masyarakat Kabupaten Kolaka.

Pomalaa memang sulit dipisahkan ketika Kolaka dibicarakan,bahkan Pomalaa lebih duluan dikenal di luar negeri dibanding Kolaka. Orang di Jakarta lebih mengenal Pomalaa sebagai daerah pertambangan nikel di Indonesia ketimbang Kolaka yang pernah jaya di tahun 90-an sebagai penghasil kakao. Lagi-lagi bukan Kolaka yang dikenal tetapi Makassar (Sulawesi Selatan) karena pedagang/pembeli coklat di Makassar yang melakukan penjualan ke luar negeri sampai ke Singapura. Kolaka selalu tertinggal soal branding image daerah, entahlah dimana letak kesalahannya. Padahal di jajaran birokrasinya kebanyakan sudah bertitel dua bahkan tiga dibelakang namanya. Sialan !, pikiranku makin liar sambil memacu roda dua yang bannya sudah gundul dan jarum bensinnya sudah di tanda merahnya.


Yang pasti perjalanan saya tadi sore ini terasa menjadi beban sebagai manusia yang pernah bekerja sebagai jurnalis di harian terbesar di Sulawesi Tenggara, yang kini harus berhenti menyuarakan ketimpangan sosial yang terjadi didepan mataku. Ah ! mengapa Pomalaa jadinya begini ?


Kolaka, 15 Februari 2015